Penculikan 17 Misionaris

oleh Hali

Baru-baru ini telah terjadi penculikan misionaris. Tak tanggung-tanggung, 17 orang sekaligus. Para misionaris sedang berkunjung ke sebuah panti Asuhan di Ganthier. Sesudah perkunjungan itu, misionaris-misionaris tersebut diculik.

Peristiwa ini terjadi pada hari Selasa tanggal 16 Oktober. Para penculik berasal dari sebuah gang yang disebut sebagai Gang 400 Mawozo.

Penculikan ini kemungkinan besar bermotif uang. Gang 400 Mawozo meminta tebusan US$ 1 Juta perkepala. Nilai ini setara dengan Rp 14 milyar.

Beberapa hari telah berlalu. Pihak kepolisian Haiti masih terus berupaya. Belum ada berita dari mereka.

Para misionaris itu sebagian besar berasal dari USA. Satu orang di antaranya adalah warga negara Canada. Kedutaan AS masih berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat.

Warga setempat mulai bereaksi keras atas penculikan tersebut. Pada hari Selasa 19 Oktober, penduduk turun ke jalan-jalan di daerah Titayen. Mereka berdemonstrasi atas penculikan 17 misionaris tersebut. Para pengunjuk rasa menuntut Gang 400 Mawozo untuk segera membebaskan para misionaris.

Pada bulan April tahun ini, geng yang sama telah menculik beberapa orang pastor dan biarawati. Bersyukur bahwa orang-orang itu kemudian dilepaskan oleh para penculik.

Pada bulan Juli, Presiden Hati mati terbunuh dalam sebuah serangan di kediamannya. Bulan Agustus terjadi gempa bumi dahsyat di Haiti. Kerusakan-kerusakan masih dalam proses pemulihan

Masyarakat setempat merasakan sekali kehadiran para misionaris di tengah-tengah mereka. Misionaris-misionaris tersebut memperbaiki jalan-jalan. Rumah-rumah warga yang rusak juga diperbaiki. Yang paling utama, pendidikan bagi anak-anak terjamin dengan kehadiran mereka.

Haiti adalah sebuah negara di daerah Karibia. Gangguan keamanan memang acapkali terjadi di negara tersebut. Seorang mahasiswa mengaku terpaksa berhenti kuliah karena takut diculik dalam perjalanan pulang pergi dari rumah ke kampus. Kondisi seperti ini sudah sangat memprihatikan warga.

Marilah kita dapat mendoakan kondisi keamanan di negara Haiti! Kiranya kepolisian setempat dapat segera mengatasi dan menegakkan keamanan! Kiranya kehidupaan masyarakat setempat dapat segera pulih. Kiranya ketujuh belas orang misionari tersebut dapat segera dibebaskan!

Manut Subuh Sibangkong

Oleh Hali

Di Surabaya hiduplah seorang bapak. Beliau bernama Manut Subuh. Marganya adalah Sibangkong. Sehingga, nama lengkap si bapak menjadi Manut Subuh Sibangkong.

Siapakah orang ini? Apa istimewanya seorang Manut? Mengapa kita perlu membicarakan Bapak Subuh? Marilah kita mengikuti kisah Sibangkong!

Manut lulusan sarjana komputer, mempunyai seorang istri dan seorang putri. Putri beliau berusia sekitar 9 tahun dan istri sekitar 38 tahun. Bapak Subuh bekerja lepas sebagai pemborong kecil-kecilan. Istri Sibangkong bekerja mandiri memasak makanan, menerima pesanan. Kadang ada order, kadang tak ada.

Berhubung bekerja lepas, tak selalu ada lokak. Beliau suka bermain game. Malam-malam main game. Anak dan istri sudah tidur pun tetap dilanjutkan bermain game. Biasa, game online. Tidur biasa malam-malam. Akibatnya, bangun siang-siang.

Manakala tidak ada lokak, beliau makin seru dengan game. Tidak ada niat sedikit pun mencari pekerjaan lain atau tambahan. Tak sedikit teman dan sanak famili telah memberikan nasehat: “Bila sedang tak ada lokak, cobalah mencari pekerjaan lain dulu!”  Tetap asyik dengan game. Tidur malam-malam. Bangun siang-siang.

Menurut teman-teman dan sanak famili, Bapak Manut kurang pede. Bapak Subuh juga tidak kreatif. Sibangkong kurang rajin. Rajin cuma kalau bermain game. Itulah beberapa profile penting Manut Subuh Sibangkong.

Di samping itu, masih terdapat profile tak resmi. Beginilah kisah beliau dimulai! Ini yang terpenting.

Setiap pagi-pagi buta, Bapak Subuh mendengar suara beduk dari Langgar dan Masjid di sekitar rumah. Beliau terbangun, lalu manut-manut menganggukkan kepala. Dia paham betul itulah pertanda Shalat Subuh. Akan tetapi, sesudah manut-manut pada bunyi beduk Subuh, beliau melanjutkan lagi tidurnya. Bangkong lagi, bangkong lagi.

Putri beliau manis, polos dan naif. Tak jarang sang putri membangunkan papanya: “Bangun Pa, hari sudah siang!” Pak Subuh hanya menganggukkan kepada tanda manut, sesudah itu segera bangkong mane.

Sang bapak biasa manut-manut di pagi-pagi buta. Suara beduk Subuh diangguk-angguk. Lalu melanjutkan bangkong. Tepat sekali orang tua beliau memberikan nama: Manut Subuh Sibangkong.

Bagaimana dengan Bapak Ibu dan Saudara-Saudari sekalian? Apakah Anda mengenal Manut Subuh di sekitar Anda? Ataukah Bapak Sibangkong adalah teman Anda sendiri?

Apa yang bisa kita pelajari bersama? Istirahat jangan terlalu malam ya! Upayakanlah tidur malam sebelum pukul 23.00. Bangun tak akan siang-siang. Tidak perlu bangkong lagi. Jangan sampai Anda manut-manut doang terhadap suara beduk Subuh. Bahayanya, Anda akan melanjutkan bangkong. Kalau sampai begitu, suatu hari kelak marga Anda bisa berganti menjadi Sibangkong.

Mahar Nikah di India

oleh Hali

Masyarakat India memiliki kebudayaan sendiri. Salah satunya tentang tradisi pernikahan. Di India pernikahan menuntut mahar. Hal ini juga banyak berlaku pada kebudayaan lain di seantero dunia, termasuk Indonesia.

Mahar nikah, apa istimewanya? Di India, mahar nikah disediakan oleh perempuan. Mahar nikah diberikan kepada keluarga pihak lelaki. Jadi, bukan keluarga pria yang memberikan mahar pada keluarga perempuan. Di sinilah letak perbedaan dan keunikannya.

Seiring dengan kemajuan zaman, mahar nikah semakin hari semakin mahal. Kehidupan masyarakat modern masa kini amat materialistis. Konsep materialisme ini merembes sampai ke  dalam tradisi mahar nikah.

Ada keluarga pria yang meminta mobil. Bahkan ada pihak keluarga pria mensyaratkan rumah. Mahar nikah kian hari kian melangit dan memberatkan.

Dua puluh tahun lalu, mahar nikah sudah dilarang di India. Hukum negara telah menghentikan tradisi mahar nikah. Baik yang meminta mahar maupun yang menerima mahar akan dikenai sanksi. Akan tetapi, dalam praktek kehidupan sehari-hari, sebagian besar masyarakat India masih mempraktekkan mahar nikah hingga kini. Pihak perempuan harus membayar mahar nikah kepada pihak pria.

Yang seringkali menjadi persoalan, terletak pada nilai atau harga dari mahar. Tak jarang mahar nikah amat memberatkan keluarga perempuan. Sesudah menikah pun masih diungkit-ungkit oleh keluarga pihak pria.

Kondisi ini  acapkali mengakibatkan pertengkaran. Pertengkaran menghebat dan tak terselesaikan. Bahayanya adalah terjadi KDRT. Beberapa kasus sampai memakan nyawa. Umumnya pihak wanita yang menjadi korban.

Kalau begitu, persoalan awal sederhana sekali. Hanya masalah mahar nikah. Ujung-ujungnya mahar nikah menyebabkan kematian. Baik KDRT maupun kematian sudah termasuk ke dalam tindak kriminal. Hal-hal inilah yang membuat pemerintah India pusing kepala.

Saudara-Saudariku sekalian, bagaimana dengan masyarakat di sekeliling Anda? Masih adakah mahar nikah? Seberapa ruwet dan memberatkannya mahar nikah? Adakah yang sampai menjadi korban KDRT dan tindak kriminal? Marilah kita mencermatinya bersama! Marilah kita mencari solusi! Marilah kita menyelesaikan persoalan ini!

Manusia memang hidup di dalam tradisi dan budaya. Manusia berhimpum secara sosial. Manusia terhubung langsung dengan orang-orang sekitar dan sanak famili. Akan tetapi, tradisi dan budaya janganlah sampai mencelakakan  manusia. Tradisi dan budaya dibentuk buat manusia. Jangan terjadi sebaliknya, manusia buat tradisi dan budaya!

ReplyReply allForward

Singapore Kiasu

oleh Hali

Dua puluh tahun lalu, seorang teman mengirimkan putrinya untuk kuliah ke Singapore. Prestasi sang putri amat menonjol. Dia memperoleh beasiswa untuk studi ke negeri singa.

Studi berjalan relatif mulus. Beberapa kali ada teman sekelas sakit, dia mengambil inisiatif yang positif. Apa yang diperbuatnya? Dia meminjamkan catatan kuliah kepada temannya. Ini merupakan upaya menolong sesama teman sekelas. Kebanyakan teman-teman sekelasnya notabene penduduk  Singapore.

Suatu hari, giliran si putri yang sakit. Dia tidak bisa pergi kuliah. Besok-besoknya dia hendak meminjam catatan teman. Di sinilah ceritanya mulai. Minta pinjam pada satu teman, tidak dipinjami. Tanya lagi ke teman lain, begitu juga jawabannya. Cari rekan sekelas lagi, tetap saja tidak dipinjamin.

Si putri menjadi sedih sekali. Sewaktu mereka sakit, dia meminjamkan catatan kuliahnya. Sekarang giliran dia yang sakit, tak ada teman yang rela meminjamkan catatan kuliah. Dia tidak habis pikir tentang kondisi ini. Di sinilah untuk pertama kali dia belajar mentalitas hidup.

Kejadian seperti ini sudah lumrah di sana. Rupa-rupanya begitulah mentalitas mahasiswa Singapore. Ada sebuah mentalitas yang sering disebut orang sebagai kiasu. Kiasu merupakan perkataan dalam bahasa Hokkian dan Tiociu. Kiasu dapat diterjemahkan sebagai “takut kalah.” Takut kalah dalam arti, di tengah berkompetisi, mentalitasnya takut kalah.

Bapak Ibu Saudara-Saudariku sekalian, jangan heran apabila Anda mengirimkan keluarga Anda studi ke sana. Jangan heran bila ada teman Anda yang bekerja ke sana. Cepat atau lambat mereka akan menemukan mentalitas kiasu.

Yang paling berbahaya adalah apabila keluarga atau teman Anda terjebak juga. Akan berbahaya sekali jika mereka juga terjangkit mentalitas kiasu di Singapore. Berhati-hatilah! Berwaspadalah! Anda boleh studi, hidup dan bekerja di Singapore, tetapi jauhkanlah diri Anda dari mentalitas kiasu!

Mengenal Seminari (3/5)

Oleh Hali

Pada umumnya seminari, STT atau sekolah Alkitab memiliki asrama. Semua mahasiswa-mahasiswi tinggal di dalam asrama. Ini seringkali merupakan suatu keharusan, tak dapat ditawar-tawar. Acapkali kampus dan asrama menyatu pada satu lokasi yang sama.

Mengapa tinggal dalam asrama? Apa kepentingannya? Tidak bolehkah tinggal di luar asrama? Bagaimana kalau kost saja di sekitar kampus?

Asrama ada bermacam-macam. Ada asrama yang satu kamar berisi empat orang. Ada asrama yang dua orang satu kamar. Ada pula kamar yang dihuni oleh lebih dari empat orang.

Kebanyakan kampus menyediakan dua bangunan asrama. Satu bangunan untuk mahasiswa (putra). Satu lagi bangunan buat mahasiswi (putri). Ada asrama yang berupa kamar-kamar saja. Ada pula asrama yang serasa rumah. Maksudnya, dalam satu rumah terdapat beberapa kamar. Setiap kamar bisa dihuni oleh empat orang. Kalau dalam rumah itu tersedia tiga kamar, berarti seluruh penghuni rumah itu dua belas orang. Mereka hidup bersama laksana satu keluarga dalam satu rumah yang terdiri dari beberapa kamar. Mereka giliran memasak. Mereka makan bersama.

Mereka bergiliran berbelanja sayur-mayur dan lauk-pauk. Mereka bergiliran memasak. Mereka bergiliran menata makanan, mencuci piring, garpu, sendok dan gelas. Mereka membersihkan ruang makan dan dapur. Mahasiswa/i sedang dilatih untuk belajar saling melayani. Mereka belajar kehidupan melalui hidup berasrama.

Asrama dan kamar perlu dirawat. Ada giliran membersihkan WC dan kamar. Terkadang terdapat pula tugas membersihkan ruang kelas dan halaman asrama serta kampus.

Bagi mahasiswa/i yang telah berkeluarga atau berumah tangga, terkadang diperlakukan sedikit berbeda. Ada kampus yang menyediakan asrama bagi mereka yang berkeluarga. Ada kampus yang tak mampu menyediakannya. Mereka yang berkeluarga diberikan kesempatan untuk kost atau pun kontrak rumah di sekitar kampus.

Bapak Ibu Saudara-Saudari sekalian, betapa besar manfaat hidup dalam asrama! Banyak pelajaran hidup melalui tinggal dalam asrama. Setiap mahasiswa harus belajar mandiri. Mandiri bukan sekedar mandi sendiri. Mandiri dalam arti hidup harus mengerjakan banyak hal bagi dirinya sendiri.

Itu saja belum cukup. Berasrama juga berarti bermasyarakat. Terkadang sesama teman dalam satu kamar bisa bertengkar. Mereka belajar menyelesaikan perselisihan. Bermasyarakat tentu tak terlepas dari asam, manis, pahit dan pedas kehidupan. Hal-hal ini dilatihkan dalam kehidupan berasrama.

Silahkan berkunjung ke asrama! Silahkan tinggal beberapa hari dalam asrama! Alamilah hidup mandiri dan bermasyarakat dalam asrama! Kiranya Anda semakin dewasa!

*** Silahkan subscribe dengan memasukkan email Anda ke kolom di bawah halaman ini (FOLLOW Blog). Please Subscribe to follow this blog site.

*** Setelah Subscribe berhasil, Anda akan dapat menerima artikel baru setiap hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat.

Gelandangan bagian 2

by Hali

Jangan berpikir di negara Barat tak ada gelandangan. Negara-negara berbahasa Inggris menamakan kaum ini sebagai homeless. Artinya sudah jelas, tak memiliki rumah. USA yang begitu maju pun masih ada kaum homeless-nya. Di kota-kota besar dan metropolitan AS pun kita masih dapat bertemu dengan mereka yang homeless.

Hanya karena dunia Barat banyak yang tergolong negara maju, terkadang kita beranggapan sudah tidak ada kaum homeless di sana. Ini pandangan yang amat keliru. Tetap saja kaum homeless eksis di sana  Bedanya adalah, kaum homeless di sana mungkin terlihat “rada keren.” Ada kaum homeless menjadi pemulung. Ada pula yang bekerja tetap dengan gaji rendah. Tak jarang ada kaum homeless memiliki kendaraan. Setiap malam mereka hanya tidur di dalam mobilnya. Kenapa bisa begitu?Itu dia, karena tidak memiliki rumah.

Orang-orang di Daratan Tiongkok menyebut kaum homeless sebagai 无家可归 (wujia kegui). Idiom ini mengandung pengertian tak memiliki rumah untuk bisa pulang. Bisa jadi mereka tidak lagi memiliki sanak famili. Terkadang keluarga tidak lagi mau menerima mereka. Mungkin juga mereka sendiri yang memilih untuk tidak mau pulang ke tengah-tengah keluarganya.

Beberapa kali saya menemukan mereka tidak sendirian. Apa maksudnya? Mereka tidak menggelandang seorang diri saja. Mereka berkumpul bersama beberapa orang. Pada malam hari mereka tidur dengan saling menjaga. Saya pernah menyaksikan realita ini dengan mata kepala sendiri.

Bagaimana dengan kondisi di Tanah Air kita sendiri? Gelandangan didefinisikan sebagai mereka yang tak menentu pekerjaan dan tempat tinggal. Definisi ini masih dapat kita perdebatkan. Yang penting adalah tempat tinggal mereka tak menentu. Sebagian gelandangan memiliki pekerjaan tetap dan sebagian lagi tidak. Intinya, kaum gelandangan cenderung hidup luntang lantung.

Kita mendapatkan kabar. Dinas sosial telah bertindak dan berbuat sesuatu bagi kaum gelandangan. Di kota kelahiran saya, Jambi, saya mendengar tak sedikit kaum gelandangan dijemput dari jalanan oleh dinas sosial. Mereka dibawa ke lembaga penampungan. Mereka diberi pretolongan untuk dapat hidup lebih layak. Mereka diberi pakaian, makanan dan mandi tentunya serta berganti pakaian. Luar biasa!

Bapak Ibu dan Saudara-Saudari sekalian, apa yang tebersik dalam pikiran dan hati Anda setelah membaca ini semua? Mungkin kondisi serumah Anda temui di sekitar rumah tempat tinggalmu. Bisa jadi Anda pernah bertemu dengan beberapa orang di antara mereka di jalanan. Sekali lagi penulis mengajukan pertanyaan: Apa yang tebersik dalam hati dan pikiranmu?

*** Silahkan subscribe dengan memasukkan email Anda ke kolom di bawah halaman ini (FOLLOW Blog). Please Subscribe to follow this blog site.

*** Setelah Subscribe berhasil, Anda akan dapat menerima artikel baru setiap hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat.

Mendekati Gelandangan bagian 1

by Hali

Lima belas tahun terakhir ini penulis banyak merenungkan tentang gelandangan. Terkadang saya menyaksikan langsung orang-orang gelandangan. Satu dua kali ada teman yang menceritakannya, baik pengalaman sendiri maupun kejadian yang dialami orang lain.

Di beberapa kota penulis pernah mengamati orang gelandangan. Sewaktu belajar Mandarin ke Xi’an, saya memantau gelandangan dekat kampus dan tempat tinggal kami. Tatkala berdomisili di Tengerang, penulis mengamati gelandangan di daerah Binong, yakni Binong Permai. Ketika bertugas ke Pekalongan, saya memantau seorang gelandangan. Waktu ke Surabaya, saya menjumpai pula gelandangan dekat rumah saya menginap.

Dari seorang teman, ada hal yang tak kalah menarik. Pernah seorang teman menolong gelandangan. Dia menyadarkan gelandangan. Tentu tidak mudah! Akan tetapi, tampaknya si teman telah berhasil. Paling tidak berhasil 95%. Ke depannya, sang gelandangan yang harus menjalani hidupnya sendiri.

Selain itu, penulis juga bergumul untuk bisa mendalami secara psikologis. Saya bertanya kepada teman-teman berlatar belakang pendidikan psikologi. Dari situ kita dapat menelusuri sejauh mana dunia psikologi meneliti gelandangan. Tentu ada sejumlah konsep tertentu yang telah ditelurkan oleh psikolgi.

Hal yang tak kalah penting adalah secara sosiologis. Penelitian sosiologis sedikit banyak tentu mengamati sepak terjang gelandangan. Pasti ada kontribusi-kontribusi dari dunia sosiologi.

Lewat berbagai jalur itu, ada sejumlah hipotesis yang penulis bisa pikirkan. Konsep-konsep bisa dipelajari lebih jauh guna mempertajam hipotesis tersebut, termasuk menguatkan, melemahkan ataupun merevisi hipotesis.. Kesimpulan-kesimpulan dapat ditarik melaluinya. Jalan keluar bisa disodorkan untuk menolong mereka keluar dari kehidupan mengelandang mereka.

Bapak Ibu Saudara-Saudari sekalian, apa pentingnya semua itu? Buat apa hal ini? Besar harapan penulis, kita dapat menolong mereka keluar dari kegelandangannya! Mereka dapat kembali ke kehidupan realistis. Mereka bisa hidup sebagaimana manusia normal pada umumnya. Gelandangan bukanlah seekor binatang. Gelandangan juga adalah seorang manusia. Dia manusia, sama seperti Anda dan saya. Jangan pernah lupa terhadap isi dari paragrap terakhir tulisan ini!

*** Silahkan subscribe dengan memasukkan email Anda ke kolom di bawah halaman ini (FOLLOW Blog). Please Subscribe to follow this blog site.

*** Setelah Subscribe berhasil, Anda akan dapat menerima artikel baru setiap hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat.

%d blogger menyukai ini: