Manut Subuh Sibangkong

Oleh Hali

Di Surabaya hiduplah seorang bapak. Beliau bernama Manut Subuh. Marganya adalah Sibangkong. Sehingga, nama lengkap si bapak menjadi Manut Subuh Sibangkong.

Siapakah orang ini? Apa istimewanya seorang Manut? Mengapa kita perlu membicarakan Bapak Subuh? Marilah kita mengikuti kisah Sibangkong!

Manut lulusan sarjana komputer, mempunyai seorang istri dan seorang putri. Putri beliau berusia sekitar 9 tahun dan istri sekitar 38 tahun. Bapak Subuh bekerja lepas sebagai pemborong kecil-kecilan. Istri Sibangkong bekerja mandiri memasak makanan, menerima pesanan. Kadang ada order, kadang tak ada.

Berhubung bekerja lepas, tak selalu ada lokak. Beliau suka bermain game. Malam-malam main game. Anak dan istri sudah tidur pun tetap dilanjutkan bermain game. Biasa, game online. Tidur biasa malam-malam. Akibatnya, bangun siang-siang.

Manakala tidak ada lokak, beliau makin seru dengan game. Tidak ada niat sedikit pun mencari pekerjaan lain atau tambahan. Tak sedikit teman dan sanak famili telah memberikan nasehat: “Bila sedang tak ada lokak, cobalah mencari pekerjaan lain dulu!”  Tetap asyik dengan game. Tidur malam-malam. Bangun siang-siang.

Menurut teman-teman dan sanak famili, Bapak Manut kurang pede. Bapak Subuh juga tidak kreatif. Sibangkong kurang rajin. Rajin cuma kalau bermain game. Itulah beberapa profile penting Manut Subuh Sibangkong.

Di samping itu, masih terdapat profile tak resmi. Beginilah kisah beliau dimulai! Ini yang terpenting.

Setiap pagi-pagi buta, Bapak Subuh mendengar suara beduk dari Langgar dan Masjid di sekitar rumah. Beliau terbangun, lalu manut-manut menganggukkan kepala. Dia paham betul itulah pertanda Shalat Subuh. Akan tetapi, sesudah manut-manut pada bunyi beduk Subuh, beliau melanjutkan lagi tidurnya. Bangkong lagi, bangkong lagi.

Putri beliau manis, polos dan naif. Tak jarang sang putri membangunkan papanya: “Bangun Pa, hari sudah siang!” Pak Subuh hanya menganggukkan kepada tanda manut, sesudah itu segera bangkong mane.

Sang bapak biasa manut-manut di pagi-pagi buta. Suara beduk Subuh diangguk-angguk. Lalu melanjutkan bangkong. Tepat sekali orang tua beliau memberikan nama: Manut Subuh Sibangkong.

Bagaimana dengan Bapak Ibu dan Saudara-Saudari sekalian? Apakah Anda mengenal Manut Subuh di sekitar Anda? Ataukah Bapak Sibangkong adalah teman Anda sendiri?

Apa yang bisa kita pelajari bersama? Istirahat jangan terlalu malam ya! Upayakanlah tidur malam sebelum pukul 23.00. Bangun tak akan siang-siang. Tidak perlu bangkong lagi. Jangan sampai Anda manut-manut doang terhadap suara beduk Subuh. Bahayanya, Anda akan melanjutkan bangkong. Kalau sampai begitu, suatu hari kelak marga Anda bisa berganti menjadi Sibangkong.

Satu komentar pada “Manut Subuh Sibangkong”

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s