Omicron Lawan Demokrasi

Oleh Hali

Pandemi Corona mulai merebak pada bulan Januari 2020. Covid-19 menyebar lumayan merasa ke seantero dunia. Indonesia tidak terkecuali. Barangkali hanya daerah-daerah terpencil di bawah kolong langit ini yang tak tersentuh dengan Pandemi.

Setelah agak reda sedikit, muncul persoalan baru. Varian Delta sempat menghangat. Delta menyerang paling membara di India. Bersyukur India sudah berhasil mengatasinya. Hebat! Hebat! Hebat!

Tak sedikit negara-negara Barat pontang-panting melawan Delta. Kemujaraban vaksin sedang menjadi bulan-bulanan. Indonesia sempat terseot-seot menghadapi Delta. Pada akhirnya kita menang atas Delta. Luar biasa NKRI!

Kini lahirlah adik baru dari Corona. Namanya sudah mulai terkenal: Omicron. Tampaknya popularitas Omicron akan segera melampaui kakak sulungnya.

Negara-negara Barat menjadi bulan-bulanan adik Corona yang satu ini. Tampaknya AstraZeneca, Pfizer dan Johnson tak kuasai menahan laju penularan Omicron. Akankah ketiga suntikan hebat Barat ini ditinggalkan oleh pasar obat dan dunia media? Kita masih harus menanti ujian-ujian dari waktu.

Berbicara tentang negara-negara Asia, hanya Korea Selatan yang rada linlung menghadapi Omicron. Kasihan Korea Selatan! Tiongkok, India dan Indonesia, tiga negara besar di Asia cukup tangguh menahan sepan terjang Omicron.

Apakah realitas-realitas ini membuktikan kehandalan vaksin Sinovac? Ini dia yang sedang ditunggu-tunggu dunia. Jangan-jangan Sinovac lebih  unggul daripada vaksin-vaksin keluaran Johnson, Pfizer dan AstraZeneca. Kita semua menanti dengan harap-harap cemas.

Tak hanya persoalan dunia medis, isme global sedang bertanding melawan Omicron. Atau, Corona bersama-sama adik-adiknya sedang menguji isme global.

Negara-negara Barat amat mengagung-agungkan demokrasi. Atas nama demokrasi, sebagian rakyat di Barat tetap mau clubbing. Atas nama demokrasi, sebagian orang Barat menolak mentah-mentah suntikan vaksin. Atas nama demokrasi, sebagian masyarakat Barat sampai menolak memakai masker. Alasannya, memakai masker mengurangi dan menghilangkan kebebasan asasi mereka.

Di tengah-tengah Pandemi Corona, demokrasi terkena gempa dahsyat. Pilar demokrasi mulai bergoyang-goyang. Akankah pilar ini roboh dan runtuh?

Di tengah-tengah Badai Omicron, demokrasi mendapatkan pukulan hebat. Tonggak demokrasi mulai bergetar dan miring. Bisakah tonggak ini tetap berdiri teguh?

Upaya-upaya untuk menegakkan kembali pilar dan dan tonggak ini segera dikerjakan. USA langsung menyelenggarakan KTT Demokrasi. Menurut mereka, demokrasi perlu diredefinisikan. Ada apa gerangan dengan demokrasi sehingga perlu didefinisikan kembali?

Corona, oh Corona! Omicron, oh Omicron! Mengapa Anda beserta adik-adik membuat demokrasi menjadi kecut? Apakah kalian membenci demokrasi? Ataukah kamu hendak merombak demokrasi?

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s