Sarana Ibadah PL

Oleh Hali

Pada masa Perjanjian Lama, orang-orang telah mengenal sistem ibadah. Orang-orang Israel mendasari ibadah mereka pada sistem keimaman. Keimaman mulai diberlakukan Tuhan bagi umat Israel melalui Musa.
Dunia lebih mengenalnya sebagai Yudaisme. Ia menunjuk pada sistem keagamaan orang-orang Yahudi.
Hal ini dimulai dalam perjalanan penggembaraan. Umat Israel dipimpin keluar dari tanah perbudakan, Mesir. Kembara mereka menuju negeri perjanjian, Kanaan. Diberitahu pada mereka, Kanaan penuh dengan susu dan madu.
Di tengah perjalanan mereka itulah sistem keimaman ditegakkan. Sarana mereka berpusat pada Kemah Pertemuan atau Kemah Suci. Orang-orang hidup dalam kemah selama perjalanan kembara mereka. Di tengah-tengah seluruh kemah ada satu yang khusus. Disebut sebagai Kemah Pertemuan, lalu Kemah Suci. Kemah yang satu ini begitu istimewa. Ia terletak di tengah-tengah, dikelilingi oleh kemah-kemah lain.
Sesudah tiba di Kanaan, akhirnya umat Israel menetap. Menetap berarti tidak perlu lagi tinggal di dalam kemah. Mereka mulai membangun rumah. Rumah-rumah tinggal berdiri satu demi satu.
Kemah Pertemuan atau Kemah Suci tidak lagi relevan. Perlu dibangun gedung yang permanen. Daud mempunyai visi dan misi untuk membangun rumah Allah. Kerinduan itu tak diperkenankan oleh Tuhan. Anaknya Salomo diberi kesempatan untuk membangun gedung permanen itu. Inilah yang kemudian hari akan disebut Bait Allah atau Bait Suci.
Sesudah asyik beribadah di Bait Allah, umat Israel mulai terlena. Hidup semerawut. Hedonism dan konsumerisme merajalela. Firman dan aturan hidup yang telah diberikan Allah dibengkalaikan. Bangsa dan kerajaan ini menuju keruntuhan.
Israel terpecah atas utara dan selatan. Bagian Utara dijajah dan terbuang ke Asyur pada tahun 722 SM. Bagian Selatan tak kalah rusak lalu dibuang ke Babilonia pada tahun 586 SM.
Di tanah asing, sebagian dari mereka sadar akan hidup mereka yang bobrok. Sebagian dari mereka rindu untuk berbalik kepada Allah. Tanpa Kemah Suci, mereka juga tak punya Bait Suci atau Bait Allah.
Di negeri asing, umat Israel mulai mendirikan Sinagoge. Dalam jumlah kecil, sekitar sepuluh keluarga, mereka berkumpul setiap hari Sabat. Di dalam Sinagogelah umat Israel mulai beribadah kembali.
Mereka mendirikan rumah ibadah yang sederhana. Dalam tempat sederhana ini ibadah berlangsung. Tak hanya ibadah, aktifitas lain pun dilaksanakan. Ada pendidikan, pengadilan sederhana, belajar kitab suci dan pertemuan lain.
Terkadang kemegahan rumah ibadah meninabobokan umat. Hakekat ibadah disingkirkan, diganti dengan ritual glamor yang menghibur para peserta. Dalam kondisi ini, tak jarang rumah ibadah akan ditinggalkan atau bahkan dihancurkan. Barulah para peserta ibadah akan tersentak, sadar dan berbalik ke jalan yang benar. (TTH)

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: