Mentalitas Reformator

Oleh Hali

Kita masih berada dalam suasana hari reformasi. Kita hendak melanjutkan kisah Yosia. Catatan hidup beliau terletak di 2Raja-Raja 22 dan 23. Perjalanan sejarah kerajaan Yehuda yang menarik dapat kita gali dari kedua pasal ini.

Padanan kedua pasal tersebut dapat pula kita jumpai pada 2 Tawarikh. Silahkan Anda membacanya pada pasal 34 dan 35! Apabila Anda cermat, akan ditemukan adanya sedikit nuanda yang berbeda di antara catatan dari kedua kitab tersebut.

Mentalitas macam apakah yang mendasari sepak terjang beliau? Pemimpin yang satu ini mengadakan pembaharuan. Orang lain menyebut beliau mengerjakan reformasi. Bahkan ada pula orang yang menamakan sebagai revolusi. Marilah kita menggalinya bersama!

Yosia mendasari tindak-tanduknya pada penemuan kitab itu. Ini menjadi faktor pertama. Isi kitab itu menjadi dasar berpijak. Apakah pegangan Anda di zaman modern ini? Segudang filosofi dan ilmu pengetahuan? Semua itu belum tentu cukup memadai.

Raja merendahkan diri di bawah otoritas kebenaran firman Tuhan. Faktor kedua ini diperlihatkan dengan reaksi mengoyakkan pakaian setelah mendengarkan pembacaan kitab itu. Ini bukti sikap kerendahan hati dan penundukkan diri di bawah kebenaran Allah.

Yosia mencari petunjuk pada orang yang benar dan tepat. Faktor ketiga ini dikerjakan oleh Nabiah Hulda. Nabi perempuan ini menguraikan petunjuk-petunjuk Tuhan bagi raja. Sebagai pemimpin, barangkali Anda sedang dikelilingi oleh sejumlah kaum cerdik pandai yang terlatih. Pertanyaannya, apakah Anda telah menemukan orang yang benar dan tepat?

Raja mengamati situasi kondisi tanah airnya. Faktor keempat ini dilakukan dengan mata yang tertuju ke lapangan. Kondisi real di seantero negeri mengerikan sekali. Beliau tak hanya mengamati Yehuda (Selatan), melainkan juga sampai ke wilayah Israel (Utara). Kehidupan ibadah rakyat luar biasa kacau. Penyembahan Molokh, Asyera, Tofet, Kamos, Milkom, dewa matahari, dewi bulan dan penyembahan kepada bala tertara langit.

Yosia mengumpulkan tua-tua dan rakyat. Raja memimpin mereka untuk mengikat kembali perjanjian dengan Yahweh. Faktor kelima ini penting dikerjakan sebagai langkah awal untuk menuntun mereka kembali ke jalan yang benar.

Raja mengerjakan pembersihan-pembersihan di segala tempat. Pembersihan meliputi seluruh negeri. Penyembahan-penyembahan yang salah itu dihentikan. Faktor keenam ini merupakan langkah konkret keseriusan yang dapat dilihat langsung oleh rakyat. Harus ada tindakan nyata yang benar terhadap praktek-praktek yang salah yang sudah berlangsung selama ini.

Pada akhirnya, Yosia mengajak rakyat untuk merayakan Paskah. Sudah ratusan tahun perayaan Paskah dihentikan. Perayaan Paskah digantikan dengan praktek-praktek peribadatan yang menyesatkan. Raya membawa rakyat kembali ke peribadatan yang benar dalam faktor ketujuh ini.

Bapak Ibu dan Saudara-Saudariku sekalian, apakah ketujuh faktor itu eksis di dalam diri Anda? Ataukah ketujuh faktor itu merupakan mentalitas diri Anda? Atau bahkan Anda melihat mentalitas itu pada orang di sekitar Anda? Jikalau ketujuh faktor ini eksis, maka kemungkinan besar Anda atau orang sekitar Anda adalah reformator pada zaman ini.

Reformator inilah yang akan membawa pembaharuan, mengerjakan reformasi dan memimpin revolusi bagi zaman kita sekarang ini.

Satu komentar pada “Mentalitas Reformator”

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: