Si Mahasiswa Tak Peduli


Dari bertahun-tahun pengalaman mengajar, dapat dijumpai berbagai macam mahasiswa. Salah satu macam mahasiswa akan kita saksikan dalam uraian kali ini. Kita sebut saja si mahasiswa tak perduli. Berikut ini gambaran beliau.

Sewaktu mengajar di sebuah universitas di Pulau Jawa, mata kuliah umum dan wajib, penulis pernah menjumpai seorang mahasiswa pria di kelas jurusan DKV. Selama setengah semester awal, dalam setiap pertemuan kelas, dia selalu duduk di belakang, asyik dengan earphone, tanpa pernah menyimak pelajaran, tak pernah komentar dalam kelas, apalagi bertanya, bicara dengan teman pun tidak. Dia asyik dengan dirinya sendiri, entah apa yang didengar dari telepon genggamnya. Penulis pernah mengingatkan dia tentang hal ini.

Setelah UTS selesai dan jawaban mahasiswa diperiksa, nilai dari mahasiswa itu sangat rendah. Sekali lagi, penulis berbicara dan mengingatkannya. Akan tetapi, sikap belajar yang sama tidak ada perubahan. Sampailah pada UAS. Dari teman sekelasnya, dia yang paling lama berada dalam kelas. Penulis berpikir mungkin dia serius menjawab soal-soal UAS. Sampai waktu ujian habis, dia adalah orang terakhir yang keluar dari ruang kelas. Sewaktu menerima lembaran jawabannya, saya amat terkejut. Lembaran jawabannya kosong melompong. Tak satu pun soal yang dapat dijawab. Dia hanya menulis satu kalimat pendek: “Pasti Lulus, Amin!” Kalimat itu hendak mengatakan bahwa walaupun dia tidak sanggup menjawab soal ujian, dia yakin akan lulus dari mata kuliah itu. Hasilnya adalah seluruh komponen nilainya tidak cukup untuk lulus. Nilainya sangat amat kurang sekali. Total nilainya adalah F. Tak bakal bisa lulus!

Satu hal yang dapat kita simpulkan sementara adalah si mahasiswa sama sekali tidak perduli dengan proses belajar mengajar. Dia tak peduli dengan semua itu. Yang hanya dia peduli, bakal bisa lulus. Bagaimana bisa lulus, nilainya rendah sekali. Kalau dapat nilai A- tentu bisa lulus. Namun dengan mantra: Amin, tak bakal lulus. Sayang sekali, sesudah semester itu berakhir, saya tak pernah ketemu lagi dengannya. Seandainya ada peluang bertemu, penulis hendak bertanya: kenapa belajar demikian, kenapa ujian menulis kalimat itu, ada persoalan apa. Siapa tahu ada solusi buat si mahasiswa tak peduli.

3 comments

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s