Lintah Darat


oleh Hali

Masyarakat tanah air seringkali mendengar frase lintah darat. Maksudnya, mereka yang meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi sekali. Saking tingginya bunga, kita bisa menyebut sebagai bunga mencekik. Itulah sebabnya diberi sebutan lindah darat.

Lintah menyukai hidup di tempat berair. Itu sebabnya lintah sering kita temukan di sungai, rawa dan selokan. Orang-orang yang masuk ke dalam air. Lalu, tanpa disadari bisa digigit oleh lintah. Sebenarnya Lintah menempel pada kulit. Umumnya pada bagian kaki. Lintah hanya menempel untuk kebutuhan mengisap darah.

Orang-orang bijaksana tempo dulu mengembangkan ide lindah mengisap darah menjadi lintah darat. Lintah yang satu ini bukan hidup di dalam air, melainkan di darat. Dia tidak mengisap darah. Apakah yang dihisap oleh lintah darat? Lintah darat mengisap hasil keringat Anda melalui bunga uang.

Lintah darat sering berjalan keliling. Mereka mengunjungi rumah demi rumah. Mereka menawarkan pinjaman ke orang-orang. Pada masa kini, lintah darat juga memanfaatkan teknologi modern. Mereka menelpon calon korban. Mereka mengirimkan pesan lewat whatsapp.

Lintah darah menetapkan bunga yang rendah (per bulan). Bunga itu terlihat rendah karena dihitung perbulan. Paling-paling sebulan 5% saja. Bunga yang rendah ini apabila dihitung ke dalam bunga tahunan maka angka itu secara kasar akan menjadi 5% x 12 = 60%. Jadi, sebenarnya bunga uang yang ditentukan oleh lintah darah yang menentukan 5% perbulan sama dengan 60% pertahun. Bunga uang inilah yang diisap oleh lintah darat dari orang-orang yang meminjam uang padanya.

Anda dapat membandingkan dengan pinjaman di Bank. Termasuk bisa dibandingkan dengan kredit rumah atau kredit mobil. Bank menetapkan suku bunga harus lebih rendah atau maksimal sama dengan dari standar suku bunga yang dipatok oleh pemerintah.

Suku bunga pinjaman di bank-bank dihitung pertahun. Dalam kondisi ekonomi sulit dan bergejolak pemerintah bisa menetapkan suku bunga tinggi, misalnya sampai 15% pertahun. Akan tetapi, umumnya hal itu jarang terjadi. Dalam kondisi normal, suku bunga pinjaman biasanya rendah. Bisa di bawah angka 10% pertahun dan bahkan terkadang sampai di bawah 5% pertahun.

Sekarang coba Anda bandingkan dengan suku bunga yang ditentukan lintah darat! Angka 5% perbulan secara kasar berarti 60% pertahun. Amat sangat mencekik leher! Lintah ini mengisap darah banyak sekali dari korbannya.

Selain bunga yang sangat tinggi, masih terdapat hal lain. Umumnya, lintah darat memanfaatkan kelemahan korban. Korban sedang kesulitan keuangan. korban sedang menghadapi hidup yang susah. Orang yang sedang tidak kesulitan keuangan, bisa menjadi korban dari lintah darat. Mereka yang gemar berhutang. Ini punmenjadi sasaran dari lintah darat. Hati-hatilah Anda yang hobby berhutang! Bisa jadi sekarang Anda sedang menjadi incaran lintah darat.

Bapak Ibu dan Saudara-Saudariku sekalian, apakah sekarang “darah Anda” sedang diisap oleh lintah darah? Ataukah keluarga Anda “kulit kakinya” sedang ditempeli lintah darat? Adakah teman Anda akan kehabisan darah karena sedang asyik diisap oleh lintah darat?

Jikalau jawabannya “ya,” bergegaslah mengambil tindakan! Lepaskanlah diri Anda dari tempelan lintah darat! Cepat-cepat cari solusi untuk keluar dari kepungan lintah darat! Lebih cepat akan lebih baik. Jangan sampai Anda kehabisan darah, kering terisap!

Mengemis Pada Saudara


Ini adalah satu realita hidup di dunia ini. Lebih tepat dinamakan sebagai ironi hidup. Penulis yakin sebagian dari Anda sudah tahu dan pernah melihat.

Apakah gerangan itu? Ada orang yang terus bergantung dan berharap pada keluarganya. Kerja takut susah. Tidak berani menghadapi tantangan. Hidup mau enak. Sedikit-sedikit meminta-minta pada Saudara. Seringkali barharap pada orang tua padahal sudah lewat dari umur dewasa. Anda mungkin pernah bertemu dengan orang tipe ini.

Repotnya lagi, mereka mudah sekali berhutang. Berhutang untuk hidup enak. Berhutang tanpa melihat kemampuan dirinya untuk membayar hutang. Berhutang dengan bunga rentenir sekalipun. Terhadap yang tidak ada bunga, langsung mereka bermohon dapat hutangan. Parahnya lagi, berhutang dengan harapan tidak perlu bayar hutangnya. Waduh, payah deh!

Orang sejenis ini tidak mandiri dan tak dewasa juga. Ada yang masih bujangan. Sebagian dari mereka bahkan sudah menikah. Ada pula di antara mereka yang sudah punya anak-anak. Masih tetap berharap bantuan dari orang tua dan saudara. Heran sekali kok tidak berdikari juga ya?

Apa yang terjadi pada mereka? Orang-orang ini telah rusak mentalnya. Mau cara mudah dapat nafkah! Mau hidup enak dan tak mau bersusah payah! Makan pilih mau enak! Berharap bantuan orang terus!

Bagaimana mau menolong mereka keluar dari lingkaran setan itu? Sudah diberi masukan dan nasehat tetap saja begitu. Memang tidak mudah. Kadang sudah capek dan malas untuk menghadapi orang tipe ini.

Apabila Anda sudah mencoba menolongnya untuk berubah, jika Anda telah memberi masukan, bahkan mungkin Anda sudah mencoba dengan cara halus dan cara kasar, berbicara secara tak langsung maupun to the point, iya sudah cukuplah. Anda tinggal mendoakan dan menantikan tanggal mainnya.

Paling tidak masih ada dua cara. Apa itu? Marilah kita lihat!

Pertama, ajaklah orang jenis ini melihat kehidupan pemulung dan gelandangan. Pemulung tetap bekerja walaupun pekerjaannya terkesan rendah, kotor, jorok dan mendapatkan penghasilan kecil. Mereka masih bertahan hidup tanpa meminta-minta. Mereka bisa hidup mencukupkan diri. Gelandangan biasanya tidur dan makan sembarangan. Gelandangan terkadang mengorek tong sampah untuk mendapatkan makanan sisa. Gelandangan tidur seadahnya di depan toko beralaskan kertas kardus. Gelandangan berpakaian compang-camping.

Kedua, beri kesempatan pada mereka untuk kena batunya! Mungkin suatu hari mereka sampai kelaparan! Mungkin mereka akan dikejar rentenir! Mungkin suatu hari mereka kehilangan semua Saudara dan orang tuanya! Barulah bisa mereka akan menjadi mandiri setelah kena batunya.

Semoga dua solusi ini masih bisa menjadi cara sakti terakhir! Hai Anda peminta, mau hidup enak, tak mau kerja susah, belajarlah dari dua solusi terakhir ini! Besar harapan penulis, mental Anda yang rusak akan mendapatkan perbaikan!

*** Silahkan subscribe dengan memasukkan email Anda ke kolom di bawah halaman ini (FOLLOW Blog). Please Subscribe to follow this blog site.

*** Setelah Subscribe berhasil, Anda akan dapat menerima artikel baru setiap hari Senin, Rabu dan Jumat.

Dua Model Hutang


Oleh Hali

Antara orang yang satu dengan yang lain terkadang terjadi hutang piutang. Hal yang sama terjadi pula antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Secara umum, kita dapat membedakan dua macam hutang piutang.

Pertama, hutang piutang resmi model perbankan. Bisa pinjaman, kredit atau apa pun namanya. Terkadang digunakan untuk membeli kendaraan, rumah dan sekarang beli telepon genggam pun bisa dengan kredit.

Hutang seperti ini sangat jelas prosedur dan pembayarannya, termasuk dengan suku bunganya. Ada hitam di atas putih. Terkadang lengkap pula dengan sanksi-sanksi.

Kedua, hutang piutang informal model kekeluargaan. Biasanya terjadi antara teman, sanak famili atau mereka yang sudah saling mengenal. Hutang jenis ini seringkali tidak jelas atau kurang jelas prosedurnya.

Hal yang lebih utama adalah saling mengenal dan saling percaya. Acapkali dengan bunga amat rendah dan lebih sering tanpa bunga sama sekali.

Entahkah yang pertama atau pun yang kedua, tetap namanya hutang piutang. Itu adalah pinjaman. Oleh sebab itu, harus tetap dikembalikan atau dilunasi. Penggembalian bisa dengan angsuran ataupun sekaligus bayar lunas.

Hutang tetaplah hutang. Hutang harus dikembalikan atau dibayar lunas. Kalaupun tidak ditagih, tetap harus dibayar lunas. Inilah prinsip paling mendasar tentang hutang piutang.

Sebisa-bisanya dalam hidup ini kita tak pernah berhutang sama sekali. Kalau terpaksa harus berhutang, harus terdapat tekad yang kuat untuk menggembalikan hutang. Lebih cepat lunas akan lebih baik.

Ada orang yang pengen cepat kaya lewat jalan berhutang. Ini mengsyaratkan, dia pandai memanajemen uang. Dia pancai menginvestasikan. Dia harus mampu pula memprediksikan untuk menggembalikan.

Jikalau tidak, bahaya mengancam diri di penghutang. Dia bisa dikejar-kejar hutang. Gali lobang tutup lobang. Terus berputar laksana lingkaran setan yang tak habis-habisnya. Ujung-ujungnya dia akan kehilangan kepercayaan dari bank, kehilangan kepercayaan dari teman dan dari pihak mana pun di mana dia berhutang.

%d blogger menyukai ini: