Umatmu Fundamentalisme?


Oleh Hali

Kita hidup dalam sebuah desa global. Begitulah menurut sebagian orang. Kemajuan iptek menopang komunikasi ke ranah universal. Masyarakat dunia terhubungkan dengan sistem telekomunikasi yang didukung dengan internet.

Dalam kondisi seperti ini, justru muncul reaksi terhadap globalisasi. Sebagian orang mengamati ekses-ekses yang muncul dari globalisasi. Salah satu bentuk reaksi itu tecermin dalam wujud Fundamentalisme.

Bagaimanakah kita memahami Fundamentalisme? Marilah kita melihat terlebih dahulu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Fundamentalisme dapat didefinisikan faham yang cenderung memperjuangkan sesuatu secara radikal.

Umumnya pembicaraan mengenai Fundamentalisme terpusat pada tiga area. Mereka masing-masing meliputi agama, ideologi dan isme-isme. Artinya, pada agama, ideologi dan isme bisa muncul faham Fundamentalisme.

Dalam lingkup agama, tiga agama berikut paling sering disebut-sebut. Ketiga agama itu berturut-turut Yudaisme, Kristen dan Islam. Tak dapat dipungkiri, pada ketiga agama ini sudah berebak faham Fundamentalisme.

Di luar ketiga agama di atas, jangan terbawa euforia. Pada agama-agama lain pun bukan tidak eksis faham Fundamentalisme. Sebagian sudah matang lalu meletus dan sebagian masih tersimpan atau tersembunyi menunggu matang. Kita semua patut tetap berwaspada.

Pada agama apa pun bisa muncul Fundamentalisme. Tidak ada agama yang kebal terhadap faham Fundamentalisme. Jangan pernah berpikir bahwa di luar Yudaisme, Kristen dan Islam tak bakal muncul Fundamentalisme. Tiada satu agama di dunia ini yang kebal terhadap virus dari Fundamentalisme.

Lantas bagaimanakah kita bersikap terhadap Fundamentalisme? Ini penting untuk dijawab oleh setiap penganut agama, dan apalagi pemimpin umat.

Setiap agama dan kepercayaan memiliki fondasi-fondasi. Ada fondasi yang ketat dan ada yang longgar. Para penganut diminta berpegang pada fondasi. Mereka hendaklah hidup seturut fondasi. Inilah kepatutan bagi setiap agama dan kepercayaan.

Berpegang pada fondasi tidak harus diartikan sebagai menjadi Fundamentalisme. Kembali kepada definisi di atas, cenderung memperjuangkan sesuatu secara radikal. Sebagian kecil orang cenderung memperjuangkan sesuatu secara radikal.

Oleh karena cenderung memperjuangkan sesuatu secara radikal, tanpa disadari bisa mencelakakan orang lain. Mereka salah mengartikan kewajiban dan hak diri. Pada waktu yang sama, mereka mengabaikan hak dan kewajiban orang lain. Di sinilah letak bahaya dari sikap Fundamentalisme.

Sebagai umat kita harus menyadari hal ini. Sebagai pemimpin umat terlebih lagi. Setiap orang hendaklah berpegang pada fondasi. Pada waktu yang sama, setiap orang hendaklah menghindarkan diri dari dan mencegah diri jatuh ke faham Fundamentalisme. Selain melindungi diri sendiri, Anda pun patut melindungi umat.