Mendekati Gelandangan bagian 1


by Hali

Lima belas tahun terakhir ini penulis banyak merenungkan tentang gelandangan. Terkadang saya menyaksikan langsung orang-orang gelandangan. Satu dua kali ada teman yang menceritakannya, baik pengalaman sendiri maupun kejadian yang dialami orang lain.

Di beberapa kota penulis pernah mengamati orang gelandangan. Sewaktu belajar Mandarin ke Xi’an, saya memantau gelandangan dekat kampus dan tempat tinggal kami. Tatkala berdomisili di Tengerang, penulis mengamati gelandangan di daerah Binong, yakni Binong Permai. Ketika bertugas ke Pekalongan, saya memantau seorang gelandangan. Waktu ke Surabaya, saya menjumpai pula gelandangan dekat rumah saya menginap.

Dari seorang teman, ada hal yang tak kalah menarik. Pernah seorang teman menolong gelandangan. Dia menyadarkan gelandangan. Tentu tidak mudah! Akan tetapi, tampaknya si teman telah berhasil. Paling tidak berhasil 95%. Ke depannya, sang gelandangan yang harus menjalani hidupnya sendiri.

Selain itu, penulis juga bergumul untuk bisa mendalami secara psikologis. Saya bertanya kepada teman-teman berlatar belakang pendidikan psikologi. Dari situ kita dapat menelusuri sejauh mana dunia psikologi meneliti gelandangan. Tentu ada sejumlah konsep tertentu yang telah ditelurkan oleh psikolgi.

Hal yang tak kalah penting adalah secara sosiologis. Penelitian sosiologis sedikit banyak tentu mengamati sepak terjang gelandangan. Pasti ada kontribusi-kontribusi dari dunia sosiologi.

Lewat berbagai jalur itu, ada sejumlah hipotesis yang penulis bisa pikirkan. Konsep-konsep bisa dipelajari lebih jauh guna mempertajam hipotesis tersebut, termasuk menguatkan, melemahkan ataupun merevisi hipotesis.. Kesimpulan-kesimpulan dapat ditarik melaluinya. Jalan keluar bisa disodorkan untuk menolong mereka keluar dari kehidupan mengelandang mereka.

Bapak Ibu Saudara-Saudari sekalian, apa pentingnya semua itu? Buat apa hal ini? Besar harapan penulis, kita dapat menolong mereka keluar dari kegelandangannya! Mereka dapat kembali ke kehidupan realistis. Mereka bisa hidup sebagaimana manusia normal pada umumnya. Gelandangan bukanlah seekor binatang. Gelandangan juga adalah seorang manusia. Dia manusia, sama seperti Anda dan saya. Jangan pernah lupa terhadap isi dari paragrap terakhir tulisan ini!

*** Silahkan subscribe dengan memasukkan email Anda ke kolom di bawah halaman ini (FOLLOW Blog). Please Subscribe to follow this blog site.

*** Setelah Subscribe berhasil, Anda akan dapat menerima artikel baru setiap hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat.

3 comments

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s