Propinsi Xinjiang bagian 2

Sebagian orang di Tiongkok beragama Tao, Buddha, Kristen dan bahkan tak beragama. Berbeda sekali halnya dengan orang-orang dari suku Uighur. Sebagian besar orang-orang Uighur beragama Islam atau Muslim.

Selama studi di Nanjing, kami mempunyai teman-teman dari suku Uighur baik pria maupun wanita. Tidak ada di antara mereka yang memakai jilbab. Pada kenyataannya, keislaman wanita dari suku Uighur memang tidak memakai hijab dan jilbab. Mereka berpakaian sebagaimana orang-orang lain pada umumnya. Tentu mereka berpakaian pantas dan sopan, tidak berpakaian mini atau pun terbuka sana sini. Mereka juga memiliki pakaian daerah atau pakaian adatnya sendiri.

Orang-orang Uighur hanya mengkonsumsi makanan halal. Mereka tidak makan daging babi dan makanan nonhalal lainnya. Daging yang mereka konsumsi umumnya kambing, ayam dan sapi. Makanan utama mereka bukanlah nasi ataupun mie, melainkan semacam pizza bundar dipanggang yang dinamakann nang.

Selama studi di Xi’an, kampus menyediakan kantin halal. Hal ini sama juga berlaku ketika penulis studi di Nanjing, setiap kantin, tentu menyediakan pula kantin halal. Pada kenyataannya, kantin halal tersedia di semua kampus di seluruh Daratan Tiongkok.

Bahasa Mandarin dari orang-orang suku Uighur tergolong jelek. Beberapa teman kami yang adalah guru SD, SMP dan SMU di kampung halamannya, berbahasa Mandarin dengan aksen yang tergolong jauh dari standar. Tak ubahnya dengan seorang mahasiswa asing yang sedang belajar Bahasa Mandarin di Tiongkok.

Kondisi itu terjadi dikarenakan orang-orang dari suku Uighur memiliki bahasanya sendiri. Bahasa mereka bahkan memiliki huruf atau tulisan yang sedikit mirip dengan India. Sehari-harinya, orang-orang Uighur lebih banyak memakai bahasa mereka sendiri, bahasa Uighur. Sebagian besar hanya di sekolah dan di dalam kelas saja barulah mereka memakai Bahasa Mandarin sebagai Bahasa nasional di Tiongkok. Selain itu, tatkala bergaul dengan orang-orang dari suku lain, barulah orang-orang Uighur mengunakan Bahasa Mandarin.

Orang-orang dari suku Uighur hidup dalam budaya dan bahasa mereka. Masyarakat sekitar menghargai dan menghormati budaya dan Bahasa mereka. Di Xinjiang dan di seluruh Tiongkok ada saling peduli di antara pergaulan antarsuku.

*** Silahkan subscribe dengan memasukkan email Anda ke kolom di bawah halaman ini (FOLLOW Blog). Please Subscribe to follow this blog site.

*** Setelah Subscribe berhasil, Anda akan dapat menerima artikel baru setiap hari Senin, Rabu dan Jumat.

5 comments

  1. Wow sebuah informasi baru dan menambah pengetahuan bagi saya. Kebetulan saya memang sedikit penasaran dengan budaya suku Uighur di Tiongkok. Ulasan ini cuku informatif. Terimakasih!

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s