Mendidik Untuk Kehidupan


oleh Hali

Pada bulan April ini penulis mendapat undangan dari sebuah sekolah di Jakarta untuk ceramah singkat. Acara mereka adalah persekutuan bagi para guru dan tenaga kependidikan, termasuk staff administrasi. Judulnya yang sangat menarik. Ini dia: “Mendidik Untuk Kehidupan.”

Sepintas lalu membaca, ada terasa sedikit janggal. Penulis mengusulkan pada mereka, apakah tidak lebih baik susunan judulnya diubah menjadi Pendidikan bagi Kehidupan. Pihak pengundang menjawab begini. Judul mereka hendak menekankan pada kata kerja Mendidik. Mendapatkan penjelasan tersebut, penulis tersentak seolah disadarkan. Betul, betul, judul ini tepat dan menarik sekali. Yang hendak ditegaskan adalah kata kerjanya, yakni pekerjaan dalam mendidik. Mendidik Untuk Kehidupan para siswa.

Saudara-Saudariku sekalian, bagaimana tema atau judul tersebut seharusnya kita pahami? Ternyata menarik sekali. Sesudah penulis mempersiapkan bahan ceramah singkat tersebut maka menjadi jelas bahwa memang seharusnya seluruh pendidikan adalah demikian adanya, yakni bagi kehidupan atau untuk kehidupan. Para siswa dimampukan untuk dapat menjalani kehidupannya masing-masing secara benar dan bertanggung jawab.

Pada umumnya, pendidikan di zaman modern ini bertujuan melengkapi siswa-siswa dengan sejumlah ilmu pengetahuan. Hal ini diukur dengan pencapaian nilai. Rapor siswa menjadi hasilnya. Atau jika hendak berkata lebih tegas: selembar ijazah menjadi tujuan akhirnya.

Dengan rapor dan dengan ijazah, siswa ini akan bisa melamar pekerjaan nantinya. Pendidikan menjadi tertuju hanya ke sana saja. Ini hanyalah satu sisi saja dari Pendidikan.

Pendidikan hendaknya luas dan holistik. Sejumlah ilmu pengetahuan tertentu sesuai dengan kurikulum memang perlu diajarkan kepada siswa-siswi. Akan tetapi, ada aspek-aspek lain dalam pendidikan agar siswa-siswi tersebut diperlengkapi untuk menghadapi hari depannya dan menjalani hidupnya. Aspek-aspek lain itu tak boleh diabaikan.

Mari kita simak perkataan dari Aristoteles: “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali. Pernyataan beliau ini tajam sekali. Dengan kata lain: hanya mengisi otak tanpa mengisi hati sama sekali bukanlah pendidikan.

Wow, sangat menakutkan. Sudah terlalu banyak pendidikan yang salah kaprah. Peringatan tersebut menyadarkan kita semua. Kita perlu memperlengkapi hati dari anak didik agar mereka tangguh menjalani kehidupannya masing-masing. Jangan sampai terjadi, otaknya penuh dan nilainya bagus namun kehidupan siswa-siswi kita tidak karuan dan tak bertanggung jawab. Betapa menyedihkan akibatnya kelak.

Lain kali penulis akan memberikan contoh tentang hal tersebut. Sementara ini, ingatlah selalu judul yang diberikan oleh pihak pengundang tadi: “Mendidik untuk Kehidupan.” Hai Anda-Andi sebagai para guru, tenaga pendidik, apalagi orang tua, ingatlah selalu: Mendidik untuk Kehidupan!

*** Silahkan subscribe dengan memasukkan email Anda ke kolom di bawah halaman ini (FOLLOW Blog). Please Subscribe to follow this blog site.

*** Setelah Subscribe berhasil, Anda akan dapat menerima artikel baru setiap hari Senin, Rabu dan Jumat.

3 comments

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s