Ditawari Obat dan Operasi


Kita hidup di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal serupa pun terjadi pada dunia kedokteran. Dunia kedokteran Barat maju secara pesat. Berbagai teknologi baru diterapkan ke dalam pengobatan medis lengkap dengan alat-alat bantunya.

Pada masa kini, tatkala seseorang memeriksakan diri ke praktek dokter ataupun rumah sakit, umumnya si pasien akan mendapatkan dua jalan keluar untuk penyakitnya. Pertama, pasien akan menerima resep untuk pergi ke apotik membeli sejumlah obat-obatan. Kedua, kemungkinan si pasien akan ditawari untuk menjalani operasi sebagai pengobatan bagi sakit-penyakitnya. Sekali lagi, kedua solusi ini paling umum ditawarkan: obat dan operasi.

Celakanya, pasien zaman kini memang sangat bahagia bila mendapatkan resep obat. Pasien modern senang dengan minum obat. Terkadang diberikan aneka ragam obat-obatan. Istri seorang teman mengomentari suaminya yang sudah terbiasa minum obat dengan kalimat: “Kamu makan obat seperti makan permen saja.” Kalimat tersebut hendak menegaskan bahwa suaminya sudah keseringan minum obat dan sudah terbiasa minum obat ini dan itu. Minum obat sudah dianggap masalah sepele laksana seorang anak yang gemar makan permen.

Celaka lainnya, pasien kini senang juga dengan tindakan operasi. Operasi menjadi pilihan yang mudah dan sederhana. Sedikit-sedikit dianjurkan operasi. Seorang teman berkomentar: “Ngeri sekali!” Tubuh manusia sudah begitu mudahnya untuk dipereteli sana sini dan dibelah sana sini. Bedah sana bedah sini!

Saudara-Saudariku sekalian, kita perlu mencermati kenyataan dunia modern ini. Pada dasarnya, sebagian besar obat-obatan digunakan untuk mengobati gejala atau symptom penyakit, bukan mengobati sumber utama penyakitnya. Kita mengenal obat sakit kepala & pusing dan obat sakit perut. Sementara sakit kepala & pusing dan sakit perut hanya merupakan gejala dan sympton dari suatu penyakit tertentu yang masih harus diperiksa sumbernya. Lantas bagaimana dengan tindak operasi? Padahal kita tahu bahwa operasi merupakan tindakan medis yang sudah amat terpaksa baru boleh dilakukan. Biarlah sikap kita sebagai pasien terhadap obat dan operasi dapat ditempatkann secara benar dan tepat. Janganlah gegabah terhadap obat dan operasi!

One comment

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s