Kenapa Turis berbikini di Pantai?


Satu kritikan dari masyarakat Indonesia tentang Pulau Bali adalah perilaku para turis. Turis-turis seringkali berbikini di tepi pantai. Orang-orang Indonesia sulit menerima pemandangan demikian. Turis lelaki hanya menggenakan celana dalam. Turis wanita memakai bra dan celana dalam saja. Kita berpendapat bahwa semua itu amat kurang sopan, tak senonoh atau merusak moral anak muda.

Sekarang marilah kita mengajukan pertanyaan utama: Mengapa turis berbikini di tepi pantai? Alasannya sederhana, selain menikmati keindahan Pulau Bali dan pantainya, para turis mengambil kesempatan untuk berjemur sinar matahari. Jangan lupa, hampir setiap hari sepanjang tahun, kita di Indonesia dapat menikmati cahaya surya. Ini adalah nilai tambah Nusantara yang terletak di garis khatulistiwa. Terkadang sedang hujan pun cahaya matahari tetap memancar.

Turis Barat sedang menikmati hamparan cahaya surya yang melimpah. Mereka tidak hendak melewatkan kesempatan ini. Di negara mereka sendiri, sebagian besar adalah empat musim. Wilayah dengan empat musim tidak selalu mendapatkan cahaya matahari setiap hari. Terkadang beberapa hari, sinar matahari alpa di daerah mereka. Musim yang berganti sepanjang tahun, bisa berhari-hari mereka tidak mendapatkan sinar surya. Jika demikian, kasihan mereka. Kalau begitu, betapa beruntungnya kita di Indonesia.

Jelas sekarang, kita dapat belajar sesuatu dari turis-turis. Mereka tahu betul kepentingan berjemur sinar matahari. Sederhananya bisa dikatakan seperti ini: turis ingin seluruh bagian tubuh mereka terjemur cahaya surya. Itu sebabnya mereka hanya mengenakan bra dan celana dalam. Kita pernah mendengar bahwa bahkan ada pantai tertentu di mana turis betul-betul tanpa busana sama sekali. Tentu ini juga dalam rangka berjemur sinar matahari. Kita sebagai orang Indonesia, tidak perlu belajar hanya memakai bra dan celana dalam di pantai. Setiap hari kita bisa mendapatkan cahaya surya. Kita pun dapat mengingatkan para turis untuk berpakaian lebih banyak dan lebih tertutup tubuhnya. Saya yakin mereka bisa mengerti.

Cahaya mentari tak pernah dapat tergantikan. Teknologi manusia, khususnya kedokteran, telah berhasil menciptakan berbagai cahaya untuk membantu proses penyembuhan medis untuk penyakit tertentu. Akan tetapi, tak satu pun cahaya atau lampu buatan manusia yang tanpa efek samping. Dengan cahaya atau lampu ciptaan teknologi manusia, tetap tak akan bisa menggantikan sinar surya. Marilah setiap kita tetap berjemur cahaya matahari. Apabila bisa berjemur setiap hari, oh betapa bahagianya!

2 comments

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s